Kamis, 09 Mei 2019

Hanya Sebatas Hampir, Bukan Hanya mampir



Kepada kamu, dengan segala tanda tanya...


Kuharap kau menyisihkan sedikit waktumu untuk membaca tulisan yang aku saja menulisnya sedikit geli, hehe, Tapi aku lega ketika menuangkan segala yang kurasa dalam sebuah tulisan.

Terima kasih pernah menjadi seseorang yang saya percaya, bahkan kelewat percaya. Yah percaya kalau kamu tidak akan memberi luka pada perrtemuan kita ini, hehe. Nyatanya aku saja yg terlalu berekpetasi tinggi akan sosokmu.

Semestinya sejak awal  kita tak melangkah sejauh ini, semstinya tak ada perasaan yang kulibatkan pada kedekatan kita. Yah, lagi-lagi ini salahku, mungkin. Tapi, coba beritahu aku wanita mana yang tidak akan luluh akan sosokmu? beritahu aku, tuan...
Atau seharusnya dirimulah yang semestinya sejak awal menjelaskan bahwa ada hati yang harus kau jaga agar tak terluka. Tuan, apa kau tak sadar? Setiap perlakuanmu yang selalu aku perhatikan itu seolah kau siap menerima semua yang terjadi ke depannya,  termasuk tentang perasaan ku ini. iTapi, lagi-lagi mungkin aaku yang salah.

Tuan, apa kau lupa setiap ucapan yang kau ucapkan akan membawaku pada pengharapan akan sosokmu? Aku rasa kamu akan mengatakan lupa perihal hal ini, hemm. Tapi, yang harus kamu ketahui tuan, kamu membuat aku kembali menjadi sosok yang kuat, sosok yang percaya akan diri ku sendiri. Kamu mengajarkan aku perihal banyak hal yang selama ini hanya aku anggap sesuatu yang biasa saja. Kamu begitu handal mengubah diriku dengan begitu cepat. Kamu juga kelewat handal menyakitiku saat ini ketimbang orang-orang yang sebelumnya ada dihidup ku. *Oh maafkan aku tuan akan uvcapanku yang satu ini* hehehe.

Tuan, terima kasih kamu memilih ku menjadi tempat persinggahan mu ketika sosok yang kau jaga hatinya tak ada di sisimu. Yah aku berterima kasih, sebab kamu memberikan aku bahagia walau hanya sekejap saja,

Terima kasih, kau sudah cukup menjelaskan padaku perihal semuanya. Tapi, yang tak kupaham akan kata hampir namun terlambat kusadari. Tuan, bila saja kamu lebih dulu mengatakan semuanya, mungkin tak akan ada kata hampir dan terlambat itu. Aku masih dipenuhi tanda tanya akan sosokmu. Apa semudah itu kau berpaling pada yang lebih paham akan dirimu hanya karena aku terlambat menyadari? atau kau hanya mempermainkan apa yang sudah kuanggap serius ini? semoga kau tak sejahat pikirku, tuan.

Tuan, kau berutang banyak penjelasan pada ku mengenai hati ku yang masih menggantung akan harap mu. Jika memang semua sudah terlmbat, apa tak ada kesempatan untuk kembali ke awal? Sebab, ini juga salahmu yang tak pernah memberikan penjelasan. Kau hanya menjadi sosok yang tak ingin tahu ketika aku menyadari semuanya, kau lari dari segalanya.

Tapi, jika memang sudah terlambat setidaknya kita sudah menyadari lalu memilih berjuang atas apa yang kita fikir pantas dan patut diperjuangkan sebelum benar-benar berada di titik jenuh,  hehe. Yah, itu kata seseorang ketika aku menanyakan perihal sebuah keterlambatan yang baru aku sadari.

Tenang. Sakit yang kau beri tidak membawa ku pada kebencian. Sebab, kata mu pernah "cintaku lebih besar ketimbang benci untukmu". Jadi, mana mungkin aku akan membenci sosok mu yang kata orang begitu baik.

Tuan,
Terima kasih pernah sebegitu meyakinkan untuk saya percaya dan banggakan.
Terima kasih untuk selalu ada untuk ku dalam situasi apa pun.
Terima kasih atas segalanya.

Jika semua sudah tidak dapat diperbaiki lagi, mungkin kau cukup untuk kujadikan pembelajaran. Kau bisa menjadi alasan ku untuk menjaga hati ku dari luka, memberikan batasan antara aku dengan orang yang asing menurut ku. Yah, itu untuk menjaga diri ku dari  sebuah luka yang akan terulang lagi.

Tuan, kuharap aku adalah sosok yang terakhir yang merasakan banyaknya teka-teki ini. Sebab tak semua orang bisa menerima dan bertahan.

Setelah tulisan ini, yang harus kau tahu bahwa tidak ada yang berubah perihal aku ke kamu. Semuanya masih sama, sebab yang salah adalah diri ku. Bahkan kau kini menjadi abadi, yah abadi dalam tulisan ini. Mungkin juga dalam ingatan ku.

Dan kuucapkan maaf,
Dulu sepertinya aku tak pandai memahami semua ini.
Maaf,
Untuk kesadaran yang terlambat ini. Terlalu terlambat barangkali.



Dari aku yang menyayangimu dan menunggu penuh harap


Tidak ada komentar:

Posting Komentar