Kepada kamu, dengan segala tanda tanya...
Kuharap kau menyisihkan sedikit waktumu untuk membaca tulisan yang aku saja menulisnya sedikit geli, hehe, Tapi aku lega ketika menuangkan segala yang kurasa dalam sebuah tulisan.
Terima
kasih pernah menjadi seseorang yang saya percaya, bahkan kelewat
percaya. Yah percaya kalau kamu tidak akan memberi luka pada perrtemuan
kita ini, hehe. Nyatanya aku saja yg terlalu berekpetasi tinggi akan
sosokmu.
Semestinya
sejak awal kita tak melangkah sejauh ini, semstinya tak ada perasaan
yang kulibatkan pada kedekatan kita. Yah, lagi-lagi ini salahku, mungkin. Tapi, coba beritahu aku wanita mana yang tidak akan luluh akan sosokmu? beritahu aku, tuan...
Atau
seharusnya dirimulah yang semestinya sejak awal menjelaskan bahwa ada
hati yang harus kau jaga agar tak terluka. Tuan, apa kau tak sadar?
Setiap perlakuanmu yang selalu aku perhatikan itu seolah kau siap menerima
semua yang terjadi ke depannya, termasuk tentang perasaan ku ini. iTapi, lagi-lagi mungkin aaku yang salah.
Tuan,
apa kau lupa setiap ucapan yang kau ucapkan akan membawaku pada
pengharapan akan sosokmu? Aku rasa kamu akan mengatakan lupa perihal hal
ini, hemm. Tapi, yang harus kamu ketahui tuan, kamu membuat aku kembali
menjadi sosok yang kuat, sosok yang percaya akan diri ku sendiri. Kamu
mengajarkan aku perihal banyak hal yang selama ini hanya aku anggap
sesuatu yang biasa saja. Kamu begitu handal mengubah diriku dengan
begitu cepat. Kamu juga kelewat handal menyakitiku saat ini ketimbang
orang-orang yang sebelumnya ada dihidup ku. *Oh maafkan aku tuan akan uvcapanku yang satu ini* hehehe.
Tuan,
terima kasih kamu memilih ku menjadi tempat persinggahan mu ketika
sosok yang kau jaga hatinya tak ada di sisimu. Yah aku berterima kasih,
sebab kamu memberikan aku bahagia walau hanya sekejap saja,
Terima kasih, kau sudah cukup menjelaskan padaku perihal semuanya. Tapi, yang tak kupaham akan kata hampir namun terlambat kusadari. Tuan, bila saja kamu lebih dulu mengatakan semuanya, mungkin tak akan ada kata hampir dan terlambat itu.
Aku masih dipenuhi tanda tanya akan sosokmu. Apa semudah itu kau
berpaling pada yang lebih paham akan dirimu hanya karena aku terlambat
menyadari? atau kau hanya mempermainkan apa yang sudah kuanggap serius
ini? semoga kau tak sejahat pikirku, tuan.
Tuan,
kau berutang banyak penjelasan pada ku mengenai hati ku yang masih
menggantung akan harap mu. Jika memang semua sudah terlmbat, apa tak ada
kesempatan untuk kembali ke awal? Sebab, ini juga salahmu yang tak
pernah memberikan penjelasan. Kau hanya menjadi sosok yang tak ingin
tahu ketika aku menyadari semuanya, kau lari dari segalanya.
Tapi,
jika memang sudah terlambat setidaknya kita sudah menyadari lalu
memilih berjuang atas apa yang kita fikir pantas dan patut diperjuangkan
sebelum benar-benar berada di titik jenuh, hehe. Yah, itu kata
seseorang ketika aku menanyakan perihal sebuah keterlambatan yang baru
aku sadari.
Tenang. Sakit yang kau beri tidak membawa ku pada kebencian. Sebab, kata mu pernah "cintaku lebih besar ketimbang benci untukmu". Jadi, mana mungkin aku akan membenci sosok mu yang kata orang begitu baik.
Tuan,
Terima kasih pernah sebegitu meyakinkan untuk saya percaya dan banggakan.
Terima kasih untuk selalu ada untuk ku dalam situasi apa pun.
Terima kasih atas segalanya.
Jika
semua sudah tidak dapat diperbaiki lagi, mungkin kau cukup untuk
kujadikan pembelajaran. Kau bisa menjadi alasan ku untuk menjaga hati ku
dari luka, memberikan batasan antara aku dengan orang yang asing menurut ku.
Yah, itu untuk menjaga diri ku dari sebuah luka yang akan terulang
lagi.
Tuan,
kuharap aku adalah sosok yang terakhir yang merasakan banyaknya
teka-teki ini. Sebab tak semua orang bisa menerima dan bertahan.
Setelah
tulisan ini, yang harus kau tahu bahwa tidak ada yang berubah perihal
aku ke kamu. Semuanya masih sama, sebab yang salah adalah diri ku. Bahkan
kau kini menjadi abadi, yah abadi dalam tulisan ini. Mungkin juga dalam
ingatan ku.
Dan kuucapkan maaf,
Dulu sepertinya aku tak pandai memahami semua ini.
Maaf,
Untuk kesadaran yang terlambat ini. Terlalu terlambat barangkali.
Dari aku yang menyayangimu dan menunggu penuh harap
Tidak ada komentar:
Posting Komentar