Sabtu, 06 Juli 2019

Terimakasih, kau pernah hadir.


"jika suatu saat kau membaca tulisan ini, mengertilah bahwa aku pernah mencintaimu dengan begitu. dan percayalah, sejujur-jujurnya kau pernah begitu teramat istimewa di mataku. atas segala luka dan perih yang pernah hadir, terima kasih" -Brian Kharisna

aku pernah memaksa diri ku untuk menjauh akan semua tentang mu. memaksa diri ku untuk tak lagi peduli. 
tapi, alih-alih aku berhasil. aku malah kembali ke tempat yang harusnya sudah aku tinggalkan. 
membuang segala rasa yang sudah aku tahu tak akan ada balasan dari mu, ternyata tak semudah ketika aku jatuh cinta pada mu. 
keinginan ku untuk meninggalkan segala tentang mu ternyata kalah dengan perasaan ku pada mu.

lalu harus ku mulai dari mana untuk tak lagi peduli padamu?
harus dengan apa agar aku bisa menjauh akan tentang mu?
jika pun aku bisa melakukan semuanya, kau harus tahu bahwa tidak ada bahagia dalam hati ku ketika aku berhasil. aku memaksa diri ku untuk menjadikan kita asing.
jika saja ada keterlukaan yang paling menyakitkan, itu adalah keterlukaan ketika ditikam oleh perasaan, bahwa aku dilukakan oleh seseorang yang sampai saat ini masih aku sayang.

ketika aku terus berusaha untuk menjadikan kita asing dengan terpaksa, aku tak pernah berhasil.

mungkin caraku yang salah, tak semestinya aku memksakan sesuatu yang pada akhirnya akan melukai perasaanku sendiri.
hingga akhirnya aku mencoba untuk berdamai dengan persaan ku sendiri. 
menjadikan mu sosok yang aku butuhkan tanpa melibatkan sebuah rasa.
menuangkan segala keluh kesah dan bahagia ku seperti seorang adik pada kakak laki-lakinya.
aku tak ingin menambah sayatan di hati ku yang aku sendiri penyebabnya.
sebab, aku tahu sekuat apa pun aku mencoba menjauh pada mu, aku akan tetap kalah.

aku menyimpan semua tentang kita terlalu dalam di hati.
hingga untuk melepasmu, yang aku daptkan hanya menyakiti hati sendiri.

tapi, hari ini kau meruntuhkan segala usahaku untuk berdamai dengan rasa ku.
kau menyakitiku lebih dari usahaku sendiri.
kau seakan memaksa kita untuk menjadi asing.
kau seakan mengatakan padaku "kau bukan orang yang penting untuk ku, kuharap kau menjauh".
yah, kau memaksaku untuk tak lagi harus peduli.

apa kau ingat, saat kau seolah tak peduli hanya untuk menbuatnya tak kecewa dan marah pada mu?
apa kau ingat, saat kau bersama ku lalu kau menceritakan kisah mu dengannya?
apa kau ingat, saat kau berjanji akan menemui ku, tapi kau tak datang?
apa kau ingat, kau yang meminta kita untuk tetap baik-baik saja namun kau pula yang melemparkan anak panah tepat di depan ku?

mungkin, kau tidak akan pernah melakukan semua itu, jika saja kau tahu bagaimana sakitnya hati ku atas setiap perlakuan yang tak kau sadari melukai ku.
dan hari ini kau seperti mendorong ku sedikit demi sedikit untuk menjauh pelan-pelan.
kau kembali menancapkan anak panah di tubuh ku, yang seharusnya kau menjadi seorang yang melindungi ku.

rasanya,
seperti berusaha dibunuh perlahan.
ditikam oleh ia yang selalu menguatkan.

maaf, aku terlalu banyak merepotkan mu.
jika aku begitu mengganggu hari-hari mu.
menghabiskan waktu mu hanya mendengar celoteh ku yang tak ada ujungnya.
menjadi beban mu ketika aku berusaha membagi cerita ku tiap harinya.
menjadikan mu sosok kakak laki-laki yang menjadi tempat keluh kesah ku.
maaf, karena kau masih saja menjadi alasan ku untuk menulis semua ini.

aku tak menyesali jika memang akhirnya kita kembali asing.

kembali tak bertegur sapa walau hanya mengucapkan kalimat "hai".
sebab, aku sudah terbiasa ditinggal pergi begitu saja, bahkan oleh mereka yang aku sayang.
aku hanya ingin mengucapkan terma kasih,
untuk mu yang pernah hadir dan memilih kembali menjadi asing.
berkat mu aku sadar bahwa aku sebenanrnya kuat.
tolong, berbahagia lah. sehingga menyakitiku hari ini bukanlah tindakan yang sia-sia.