Senin, 06 April 2020

SEBUAH HARAP

_________


Ah, sungguh untuk menulis kembali di halaman ini saya membutuhkan waktu yang lama.
harus saya kumpulkan dlulu niat untuk kembali menuangkan apa yang ada di kepala.

baik, akan saya mulai...

tapi, harus dari mana?
menyapa mu? 
atau menanyakan perihal kabar mu?

saya seperti orang yang kebingungan di tengah hutan, sial !
kurasa semua penting bagi saya

tapi, percuma saja saya utarakan semuanya disini. Mungkin kamu tidak akan membacanya.
kalau pun ternyata kamu membaca tulisan saya, ketahuilah saya sungguh merindukan kamu, saya masih menunggu telepon saya berbunyi menampilkan nama kamu. Bisakah kamu segera mengabari saya? Setidaknya kabar mu saya ketahui di tengah pedemi ini dan rindu sedikit berkurang walau tak  ada balasan rindu yang saya temui.

saya sudah pernah berada di fase seperti ini.
merindukan sosok yang tak pernah saya tau apakah juga merindukan saya.
berada padaa hubungan yang tak jelas arahnya.
tapi, alih-alih tidak mengulang situasi tersebut, saya kini kembali terjebak.

dulu saya tidak pernah berfikir hanya karena berkomunikasi perihal sebuah foto akan membawa saya di hari sekarang, hari dimana mendapatkan notifikasi dari kamu menjadi hal yang membahagiakan bagi saya. bahkan saya ingin menjadi alasan yang mampu membuat kamu tersenyum ditiap harinya.

saya dan kamu memang nyata adanya.
brjalan selayakanya muda-mudi yang saling mencintai.
tapi tak kunjung menemukan tujuan yang sama.
entah karena kamu yang masih membiarkan diri terjebak pada masa lalu.

tidak, kamu tidak terjebak pada masa lalu.
itu yang sempat kamu katakan waktu itu, lalu meminta saya untuk menjalani hari-hari bersama mu.
meminta saya untuk menganggap kamu adalah hal yang penting.
saya tidak masalah, hitung-hitung ini kesempatan agar saya tidak menganggap semua lelaki itu sama dan mencoba menata hal baru.

lalu tanpa kau sadari mematahkan harapan yang baru saya bangun.
kamu kembali menghilang.
membiarkan saya dipatahkan dengan harapan saya sendiri.
hingga semua tampak jelas, kita memang melangkah bersama.
namun, pada tujuan yang berbeda.
harap saya mungkin tidak akan menjadi nyata.
atau mungkin belum saatnya menjadi nyata
entahlah...

maaf,
atas hadirku.
untuk rasa yang masih tetap sama.

jika saja semesta membawa kamu pada halaman ini dan membacanya.
percayalah ada rasa senang yang tak dapat saya sembunyikan karena, apa yang tidak sanggup saya utarakan akhirnya tersampaikan walau melalui sebuah perantara. 
tapi, saya juga takut saat setelah kamu membacanya lalu memilih benar-benar pergi hingga tak sanggup saya gapai lagi. kuharap tak terlintas inginmu untuk pergi.

yang harus kamu tau,
saya akan tetap di sini.
membiarkan semesta membawa saya pada jalan yang seharusnya.
atau menunggu semesta menyadarkan kamu dan mengabulkan sebuah harap untuk kita bersama.


"berbicara soal perasaan memang sederhana. 
tapi, berbicara soal perasaan ingin memiliki itu yang sulit"


semoga April membawa kabar baik kali ini.
semua lekas pulih, bumi dan juga hati.
lau kita segera kembali bertemu dan bersua.
agar rindu tak lagi bertambah dan menyiksa.


Pinrang, 06 April 2020

dari sosok yang merindukan kamu,

Fatjan












Sabtu, 06 Juli 2019

Terimakasih, kau pernah hadir.


"jika suatu saat kau membaca tulisan ini, mengertilah bahwa aku pernah mencintaimu dengan begitu. dan percayalah, sejujur-jujurnya kau pernah begitu teramat istimewa di mataku. atas segala luka dan perih yang pernah hadir, terima kasih" -Brian Kharisna

aku pernah memaksa diri ku untuk menjauh akan semua tentang mu. memaksa diri ku untuk tak lagi peduli. 
tapi, alih-alih aku berhasil. aku malah kembali ke tempat yang harusnya sudah aku tinggalkan. 
membuang segala rasa yang sudah aku tahu tak akan ada balasan dari mu, ternyata tak semudah ketika aku jatuh cinta pada mu. 
keinginan ku untuk meninggalkan segala tentang mu ternyata kalah dengan perasaan ku pada mu.

lalu harus ku mulai dari mana untuk tak lagi peduli padamu?
harus dengan apa agar aku bisa menjauh akan tentang mu?
jika pun aku bisa melakukan semuanya, kau harus tahu bahwa tidak ada bahagia dalam hati ku ketika aku berhasil. aku memaksa diri ku untuk menjadikan kita asing.
jika saja ada keterlukaan yang paling menyakitkan, itu adalah keterlukaan ketika ditikam oleh perasaan, bahwa aku dilukakan oleh seseorang yang sampai saat ini masih aku sayang.

ketika aku terus berusaha untuk menjadikan kita asing dengan terpaksa, aku tak pernah berhasil.

mungkin caraku yang salah, tak semestinya aku memksakan sesuatu yang pada akhirnya akan melukai perasaanku sendiri.
hingga akhirnya aku mencoba untuk berdamai dengan persaan ku sendiri. 
menjadikan mu sosok yang aku butuhkan tanpa melibatkan sebuah rasa.
menuangkan segala keluh kesah dan bahagia ku seperti seorang adik pada kakak laki-lakinya.
aku tak ingin menambah sayatan di hati ku yang aku sendiri penyebabnya.
sebab, aku tahu sekuat apa pun aku mencoba menjauh pada mu, aku akan tetap kalah.

aku menyimpan semua tentang kita terlalu dalam di hati.
hingga untuk melepasmu, yang aku daptkan hanya menyakiti hati sendiri.

tapi, hari ini kau meruntuhkan segala usahaku untuk berdamai dengan rasa ku.
kau menyakitiku lebih dari usahaku sendiri.
kau seakan memaksa kita untuk menjadi asing.
kau seakan mengatakan padaku "kau bukan orang yang penting untuk ku, kuharap kau menjauh".
yah, kau memaksaku untuk tak lagi harus peduli.

apa kau ingat, saat kau seolah tak peduli hanya untuk menbuatnya tak kecewa dan marah pada mu?
apa kau ingat, saat kau bersama ku lalu kau menceritakan kisah mu dengannya?
apa kau ingat, saat kau berjanji akan menemui ku, tapi kau tak datang?
apa kau ingat, kau yang meminta kita untuk tetap baik-baik saja namun kau pula yang melemparkan anak panah tepat di depan ku?

mungkin, kau tidak akan pernah melakukan semua itu, jika saja kau tahu bagaimana sakitnya hati ku atas setiap perlakuan yang tak kau sadari melukai ku.
dan hari ini kau seperti mendorong ku sedikit demi sedikit untuk menjauh pelan-pelan.
kau kembali menancapkan anak panah di tubuh ku, yang seharusnya kau menjadi seorang yang melindungi ku.

rasanya,
seperti berusaha dibunuh perlahan.
ditikam oleh ia yang selalu menguatkan.

maaf, aku terlalu banyak merepotkan mu.
jika aku begitu mengganggu hari-hari mu.
menghabiskan waktu mu hanya mendengar celoteh ku yang tak ada ujungnya.
menjadi beban mu ketika aku berusaha membagi cerita ku tiap harinya.
menjadikan mu sosok kakak laki-laki yang menjadi tempat keluh kesah ku.
maaf, karena kau masih saja menjadi alasan ku untuk menulis semua ini.

aku tak menyesali jika memang akhirnya kita kembali asing.

kembali tak bertegur sapa walau hanya mengucapkan kalimat "hai".
sebab, aku sudah terbiasa ditinggal pergi begitu saja, bahkan oleh mereka yang aku sayang.
aku hanya ingin mengucapkan terma kasih,
untuk mu yang pernah hadir dan memilih kembali menjadi asing.
berkat mu aku sadar bahwa aku sebenanrnya kuat.
tolong, berbahagia lah. sehingga menyakitiku hari ini bukanlah tindakan yang sia-sia.







Sabtu, 11 Mei 2019

Kado Untuk Mama

Mei 12, 2019

Untuk malaikat yang tak bersayap.

Mama...
Sebelumnya aku ingin memohon maaf karena tak berani mengatakan langsung di hadapanmu saat hari kelahiranmu ini tiba. 
Maaf, karena selama kau melahirkan sosokku aku belum bisa menjadi sosok teladan untuk adik-adikku.
Maaf, aku masih kadang membuat mu kecewa dan sedih.
Maaf, kau kadang menitihkan air mata karena ku yang masih keras kepala ini.
Dan maaf, anakmu ini masih  belum mampu memberimu hadiah yang mewah. Tapi, aku harap tulisanku ini bisa menjadi hadiah yang kau senangi dan membuatmu tersenyum bahagia.

Selamat Ulang Tahun Mamaku Cantik.

Hari ini penuh dengan kebahagiaan juga kesedihan.
Yah, hari ini usiamu bertambah, tapi waktu untuk kita juga telah berkurang.
Kita tak tahu berapa waktu yang tersisa.

Aku tahu dan paham...
Segala yang bernyawa pasti akan mati.
Segala yang datang pasti akan pergi.
Segala yang bertemu pasti akan berpisah.
Segala yang memiliki pasti akan kehilangan.
Tetapi,
Kian hari rasa takutku selalu bertambah, mah.
Takut kehilangan sosokmu sebelum aku menggapai cita-citaku, sebelum aku membanggakan dan membahagiankan mu.
Aku takut kehilangan sosok yang tiap pagi dan malamnya berdoa untuk keberkahan hidupku.
Aku takut orang yang tidak akan pernah berubah dan meninggalkan aku dalam keadaan apa pun harus aku ikhlaskan.

Mah..
Segala yang aku raih kelak memang tak akan membalas segala kasih sayang dan pengorbanan mu.
Tapi, izinkan aku membuatmu bahagia.
Membuatmu menangis karena bangga padaku, bukan karena kecewa.
Bukan pula tertawa dalam derita.

Mama ku yang cantik.
Terima kasih, kau selalu bersamaku dalam situasi apa pun.
Kau selalu berusaha menyempurnakan hidup ku.
Kau memberikan setiap aku minta.
Kau selalu menyembunyikan kepedihan mu untuk bahagiaku.
Kau tak pernah merasa lelah dan letih bekerja untuk anakmu ini yang terkadang durhaka dan membuat mu kecewa ini.

Mama ku tersayang...
Kau wanita hebat.
Kau selalu bisa menyembunyikan lelahmu juga letihmu dengan canda tawa.
Kau menyembunyikan kesedihanmu dengan senyuman yang indah.
Kau menyembunyikan luka yang kau pikul dengan pelukan yang menghangatkan untuk anakmu.

Mama..
Aku tak tahu kapan hari yang paling ku benci itu datang.
Aku hanya ingin engkau tahu.
Kau adalah malaikat dalam hidup ku.
Kau sosok yang tak pernah meninggalkanku ketika semua yang aku sayangi pergi entah kemana.
Kau selalu menjadi tempat pulang terbaik ketika dunia dan seisinya kejam padaku.
Dan aku sangat mencintaimu, sungguh.

Mah...
Aku selalu berdoa pada Yang Maha Kuasa agar kau dilimpahkan keberkahan juga bahagia.
Aku meminta Kepada Yang Maha Mengabulkan kiranya engkau diberi kesehatan dan umur yang panjang agar kita punya waktu lebih lama untuk bersama.
Semoga semesta dan seisinya membantuku meng-aamiin-kan setiap doaku.


Sekali lagi, selama ulang tahun mama.


Salam rindu,
Dari anak mu yang selalu membuatmu menangis dalam doa mu.




Kamis, 09 Mei 2019

Hanya Sebatas Hampir, Bukan Hanya mampir



Kepada kamu, dengan segala tanda tanya...


Kuharap kau menyisihkan sedikit waktumu untuk membaca tulisan yang aku saja menulisnya sedikit geli, hehe, Tapi aku lega ketika menuangkan segala yang kurasa dalam sebuah tulisan.

Terima kasih pernah menjadi seseorang yang saya percaya, bahkan kelewat percaya. Yah percaya kalau kamu tidak akan memberi luka pada perrtemuan kita ini, hehe. Nyatanya aku saja yg terlalu berekpetasi tinggi akan sosokmu.

Semestinya sejak awal  kita tak melangkah sejauh ini, semstinya tak ada perasaan yang kulibatkan pada kedekatan kita. Yah, lagi-lagi ini salahku, mungkin. Tapi, coba beritahu aku wanita mana yang tidak akan luluh akan sosokmu? beritahu aku, tuan...
Atau seharusnya dirimulah yang semestinya sejak awal menjelaskan bahwa ada hati yang harus kau jaga agar tak terluka. Tuan, apa kau tak sadar? Setiap perlakuanmu yang selalu aku perhatikan itu seolah kau siap menerima semua yang terjadi ke depannya,  termasuk tentang perasaan ku ini. iTapi, lagi-lagi mungkin aaku yang salah.

Tuan, apa kau lupa setiap ucapan yang kau ucapkan akan membawaku pada pengharapan akan sosokmu? Aku rasa kamu akan mengatakan lupa perihal hal ini, hemm. Tapi, yang harus kamu ketahui tuan, kamu membuat aku kembali menjadi sosok yang kuat, sosok yang percaya akan diri ku sendiri. Kamu mengajarkan aku perihal banyak hal yang selama ini hanya aku anggap sesuatu yang biasa saja. Kamu begitu handal mengubah diriku dengan begitu cepat. Kamu juga kelewat handal menyakitiku saat ini ketimbang orang-orang yang sebelumnya ada dihidup ku. *Oh maafkan aku tuan akan uvcapanku yang satu ini* hehehe.

Tuan, terima kasih kamu memilih ku menjadi tempat persinggahan mu ketika sosok yang kau jaga hatinya tak ada di sisimu. Yah aku berterima kasih, sebab kamu memberikan aku bahagia walau hanya sekejap saja,

Terima kasih, kau sudah cukup menjelaskan padaku perihal semuanya. Tapi, yang tak kupaham akan kata hampir namun terlambat kusadari. Tuan, bila saja kamu lebih dulu mengatakan semuanya, mungkin tak akan ada kata hampir dan terlambat itu. Aku masih dipenuhi tanda tanya akan sosokmu. Apa semudah itu kau berpaling pada yang lebih paham akan dirimu hanya karena aku terlambat menyadari? atau kau hanya mempermainkan apa yang sudah kuanggap serius ini? semoga kau tak sejahat pikirku, tuan.

Tuan, kau berutang banyak penjelasan pada ku mengenai hati ku yang masih menggantung akan harap mu. Jika memang semua sudah terlmbat, apa tak ada kesempatan untuk kembali ke awal? Sebab, ini juga salahmu yang tak pernah memberikan penjelasan. Kau hanya menjadi sosok yang tak ingin tahu ketika aku menyadari semuanya, kau lari dari segalanya.

Tapi, jika memang sudah terlambat setidaknya kita sudah menyadari lalu memilih berjuang atas apa yang kita fikir pantas dan patut diperjuangkan sebelum benar-benar berada di titik jenuh,  hehe. Yah, itu kata seseorang ketika aku menanyakan perihal sebuah keterlambatan yang baru aku sadari.

Tenang. Sakit yang kau beri tidak membawa ku pada kebencian. Sebab, kata mu pernah "cintaku lebih besar ketimbang benci untukmu". Jadi, mana mungkin aku akan membenci sosok mu yang kata orang begitu baik.

Tuan,
Terima kasih pernah sebegitu meyakinkan untuk saya percaya dan banggakan.
Terima kasih untuk selalu ada untuk ku dalam situasi apa pun.
Terima kasih atas segalanya.

Jika semua sudah tidak dapat diperbaiki lagi, mungkin kau cukup untuk kujadikan pembelajaran. Kau bisa menjadi alasan ku untuk menjaga hati ku dari luka, memberikan batasan antara aku dengan orang yang asing menurut ku. Yah, itu untuk menjaga diri ku dari  sebuah luka yang akan terulang lagi.

Tuan, kuharap aku adalah sosok yang terakhir yang merasakan banyaknya teka-teki ini. Sebab tak semua orang bisa menerima dan bertahan.

Setelah tulisan ini, yang harus kau tahu bahwa tidak ada yang berubah perihal aku ke kamu. Semuanya masih sama, sebab yang salah adalah diri ku. Bahkan kau kini menjadi abadi, yah abadi dalam tulisan ini. Mungkin juga dalam ingatan ku.

Dan kuucapkan maaf,
Dulu sepertinya aku tak pandai memahami semua ini.
Maaf,
Untuk kesadaran yang terlambat ini. Terlalu terlambat barangkali.



Dari aku yang menyayangimu dan menunggu penuh harap